Putus Mata Rantai Generasi Senggol Bacok (Review Buku Neuroscience For Kids)

Review Buku Seri pendidikan karakter Neuroscience for Kids: Pengendalian Emosi Anak oleh Ratna Megawangi, dkk Indonesia Heritage Foundation (Agustus 2010) 

Bangsa Indonesia yang dikenal ramah ini ternyata memiliki banyak PR, terutama dalam karakter manusianya. Akhir akhir ini kekerasan marak mewarnai peristiwa di sekitar kita. Kemarahan seolah menjadi pembenaran untuk melakukan kekerasan. Tak peduli apa akibatnya pada diri sendiri dan orang lain. Kekerasan dilakukan mulai dari anak usia dini hingga orang dewasa. Pembunuhan akibat dendam maupun modus kriminal menjadi berita sehari hari di layar kaca. Mengerikan, tapi nyata. 

Saya sering bertanya tanya mengapa begitu pendek pikiran manusia semacam itu. Hanya karena cemburu bisa membunuh pasangan. Karena kesal dengan tangisan, anak sendiri tega dibunuh. Dan beragam kenekatan lain yang menyeramkan. Kejahatan yang lebih rendah dari binatang. Melalui buku ini, IHF menjawab pertanyaan saya. Buku ini juga menyajikan gaya bertutur melalui cerita kepada anak-anak. Karena sejatinya buku ini memang ditujukan untuk memahamkan anak tentang pengendalian emosi dengan mengenali cara otak bekerja. 

Ya, ternyata kunci dari semua itu ada di otak manusia. Dengan memahami cara kerja otak, kita bisa mengendalikan diri dengan lebih baik. 
Otak kita memiliki 3 bagian, yakni neokorteks (Kapten Neo), Limbik (Mosi), dan otak reptil (Si Reptil). Masing masing memiliki fungsi yang saling terkait, bekerja sebagai tim. 

Neokorteks (Kapten Neo) adalah bagian yang membedakan manusia dengan hewan. Ini adalah tempat berpikir dan menganalisa. Ia mampu menciptakan ide, mengontrol diri, serta beradaptasi dalam menghadapi situasi. Mungkin karena itulah Allah menjadikan manusia khalifah di muka bumi. Jadi ingat surat At Tiin, Allah berkata bahwa manusia sudah diciptakan dalam bentuk sebaik baiknya. 
Limbik merupakan bagian pertama yang menerima informasi dari anggota tubuh. Saat kulit disentuh, mata melihat, teinga mendengar, dan sebagainya. Limbik bekerja berdasarkan emosi (Si Mosi), baik yang positif maupun negatif. Emosi positif dikelola oleh lobus prefrontal kiri, sedangkan yang negatif oleh amygdala. Boleh intip surat An Najm:43. 
Otak reptil (Si Reptil) adalah otak yang juga terdapat pada hewan. Oleh karena itu, manusia juga bisa berperilaku seperti hewan. Misalnya, seperti pelaku kriminal yang menyerang korbannya. Atau orang yang kabur setelah menabrak orang lain di jalan raya. Saya jadi ingat salah satu ayat yang setelah diintip sepertinya bisa menggambarkan bagian otak reptil. Silakan cek QS. Al A’raf:179; Al Furqan: 44. 

Secara umum fungsi otak reptil adalah menyiapkan tubuh untuk menyerang, siaga, dan lari. Ia juga mengatur metabolisme seperti bernapas, dan gerakan alamiah untuk bertahan hidup. Contohnya, ketika melihat ular, seketika kita melompat atau lari menghindar. 

Siapa yang memimpin tim kerja otak ini tergantung dari apa yang dipahami limbik. Sewaktu merasakan emosi positif, Mosi akan bekerja sama dengan Kapten Neo. Ia akan memberikan makanan yang membuat Kapten Neo kuat sehingga mampu memikirkan solusi terbaik. Sebaliknya, saat merasakan emosi negatif, ia akan berteman dengan Si Reptil. Ia akan mengeluarkan racun yang merusak Kapten Neo. Akhirnya Kapten Neo melemah dan menjadi budak Si Reptil Kapten Jahat (intip QS. Al Fathir:8). 

Manusia yang menjadikan neokorteks sebagai kapten akan menjadi bijaksana. Ketika menerima informasi dari limbik, ia berpikir dan menganalisa terlebih dahulu. Ia akan selalu mencari penyelesaian terbaik. Mungkin inilah mengapa dalam Alquran berulangkali Allah memerintahkan manusia untuk berpikir (QS Albaqarah: 44, AliImran: 65) dan memuji orang orang yang menggunakan akal sehatnya (Qs. Yusuf:111, ArRa’d: 19, Ibrahim: 52, Taha: 54, 128, ArRuum:28 dan banyak lagi). 

Sebaliknya, manusia yang dikomandani oleh otak reptil, ia akan menjadi Kapten Jahat dan bersahabat dengan emosi negatif. Neokorteks hanya akan menjadi budak untuk merencanakan, menyembunyikan, serta mencari pembenaran dari kejahatan yang ia lakukan. 

Bagaimana caranya agar Neo selalu menjadi kapten? 

  1. Berlatih mengubah emosi negatif menjadi emosi positif. 

Tumbuh kembang emosi negatif di amygdala akan mendorong otak reptil untuk siaga. Ketika emosi negatif dirasakan, otak dan tubuh dibanjiri hormon kortisol yang dapat merusak sel-sel otak. Jika difoto, otak yang banyak menerima kortisol terlihat berlubang di bagian neokorteks. 

Trik untuk mengubah emosi negatif dapat dilakukan sebagai berikut: 

  • Letakkan kedua tangan di tempat amygdala berada, yaitu pelipis kiri dan kanan, sedikit di depan kedua telinga. 
  • Pejamkan mata. 
  • Bayangkan hal-hal yang sebelumnya tidak kita sukai. 
  • Lalu perlahan-lahan ganti menjadi bayangan yang kita sukai. Contoh kita tidak suka melihat soal ujian. Ganti bayangan soal tersebut menjadi kertas surat yang indah berwarna warni. Wangi harum pun tercium dari kertas tersebut. 
  • Bayangkan hal tersebut sampai kita merasa senang dan damai. 

2. Pilih informasi yang baik untuk otak. 

Terus menerus mendapat informasi buruk seperti tayangan maupun permainan kekerasan akan merangsang mosi negatif dan si reptil untuk terus aktif. Lihat surat Al Hujurat: 11; AlBaqarah:38, relevan dengan ini. 

3. Bermain dengan riang gembira. 
Perasaan gembira akan membuat aliran informasi berada di jalur thalamus, yang menyebabkan neokorteks bekerja aktif memberi respon. Amygdala tidak bekerja, karena tidak ada informasi yang dikategorikan menakutkan, sehingga si reptil pun tidak siaga. Ia hanya mengatur metabolisme tubuh saja. lihat QS. AlBaqarah:62, 112, 274, 277, Ali Imran: 139, Al A’raf:35, Yunus: 62 dan 65, 

4. Bersikap tenang. 
Dalam keadaan tenang, lobus prefrontal kiri mampu mengurangi emosi negatif yang dipicu oleh amygdala. Dengan demikian, ia mampu mengendalikan emosi dan memikirkan tindakan terbaik yang bisa dilakukan. (Cekidot QS. Az Zumar: 23, Al Fath: 4) 

5. Berlatih agar Kapten Neo bisa mengendalikan Mosi dan Reptil untuk bekerja sama dengan baik. 
Saat ada yang berteriak pada kita, reaksi yang bisa timbul adalah rasa marah. Mungkin kita akan membalas teriak, atau bahkan menyerang si pelaku. Namun jika Kapten Neo terlatih, kita tidak akan beraksi demikian. Ia akan berpikir dahulu dari berbagai sudut pandang: 
· Mungkin orang ini sedang kesal 
· Apa untungnya jika saya balas berteriak? 
· Lebih baik saya tanya dulu kenapa dia berteriak 
· Kalau saya balas, nanti malah terjadi keributan 

Kapten Neo dapat menenangkan Mosi Negatif sehingga berubah menjadi Mosi Positif. Cara ini dikenal dengan konsep STAR; Stop, Telaah, Aksi, dan Renungkan. 

Setiap ingin memberi respon, kita harus STOP dulu. Beri jeda untuk memikirkan situasi yang terjadi dengan TELAH, apakah respon yang ingin kita pilih: 
· Berguna, menguntungkankah bagi saya? Apa kerugiannya? 
· Apakah menolong keadaan? 
· Apakah tindakan itu benar? 
· Adakah tindakan yang lebih baik? 
· Apakah tidak menyakiti atau merugikan orang? 

Setelah dipikirkan matang matang, barulah kita melakukan AKSI. Kita dapat memilih tindakan kita, karena kita adalah pemimpin bagi diri kita. 

Selanjutnya, kita perlu RENUNGKAN: 
· Apakah tindakan atau keputusan kita sudah benar? 
· Bagaimana perasaan kita setelah bertindak, adakah rasa bersalah? 
· Bagaimana memperbaikinya di masa depan?

Alhamdulillah, saya sudah menyampaikan. Semoga menjadi amal jariyah bagi yang ikut menyebarkan dan mempraktekkannya. Mari putuskan rantai generasi senggol bacok di Indonesia! 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *