Cluster Muslim tentang POLITIK

Sikap muslim terhadap politik ada empat cluster:

Muslim yang paham politik dalam Islam dan ikut dalam politik praktis.
Inilah muslim ideolog (mujahid). Mereka istiqomah berjuang, walau menghadapi berbagai godaan dan celaan. Sebagian mereka akhirnya masuk penjara karena berjuang membela kebenaran. Inilah yang disebut Allah dalam Qs Al Ahzab ayat 23: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”.

Muslim yang paham politik dalam Islam tapi tidak ikut politik praktis.
Inilah muslim pendukung/simpatisan (muhibbin). Mereka tidak bisa ikut politik praktis karena berbagai alasan, tapi siap memberikan suaranya, mendoakan dan memberikan dukungan materil untuk muslim yang ada di cluster pertama. Inilah yang disebut dalam Al Qur’an : “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (Qs. At Taubah ayat 122).

Muslim yang tidak paham politik dalam Islam, tapi ikut politik praktis.
Inilah muslim opurtunis (muzabzab). Mereka menganggap terjun dalam politik praktis adalah cara agar cepat kaya. Ideologi mereka uang dan kekuasaan, bukan untuk memperjuangkan Islam. Mereka mudah tergoda, munafiq dan kutu loncat. Merekalah yang membuat nama Islam tercemar karena menghalalkan segala cara dalam berpolitik, termasuk menjual agama. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali“ (Qs. An Nisa ayat 142).

Muslim yang tidak paham politik dan tidak ikut politik praktis.
Inilah muslim bodoh (jahil dan jumud). Mereka tidak paham pentingnya politik dalam Islam. Mereka terpengaruh nilai-nilai sekuler Barat yang menganggap agama urusan pribadi. Mereka menganggap politik adalah kotor, mungkin anggapan itu karena dampak dari perilaku muslim cluster tiga. Mereka korban dari propaganda “Islam yes, politik Islam no“. Perkataan mereka persis seperti orang Yahudi yang masa bodoh terhadap perjuangan Nabinya, tapi ingin ikut memetik hasilnya : “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Qs. Al Ma’idah ayat 24). Inilah kebodohan kaum Nabi Musa (Yahudi) yang membuat mereka terus dicela sampai akhir zaman. Wallahu’alam.

Semoga tadabbur ayat ini membuat kita semakin paham pentingnya politik (siyasah) dalam Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

bantuan? Chat via WA